Jumat, 26 Januari 2018

Kembali

3 TAHUN KEMUDIAN

Persiapan dokumen sebelum bekerja

Hampir 3 tahun lamanya saya tidak menulis di blog ini, hari-hari diisi dengan urusan pekerjaan, rumah tangga, sosial, dan lain-lain.
Bicara masalah pekerjaan, selama 3 tahun ini belakagan saya memang disibukkan dengan hal-hal yang berbau kelistrikan, karena saya dipindah tugaskan ke Area Bali Selatan. You know lah, sebagai abdi negara di BUMN kelistrikan, kita dituntut untuk terus kejar target.

Senin, 23 Mei 2016

Tutorial Membuat 3D Map Garmin Basecamp

Tutorial Membuat 3D Map
Garmin Basecamps

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Peta 3D Gunung Rinjani dengan Garmin Basecamp

Garmin Basecamp adalah aplikasi pengolah data GPS dari Garmin yang penggunaaan sangat luas. Salah satu diantaranya adalah visualisasi peta baik secara 2 Dimensi maupun 3 Dimensi.
Oleh karena peta yang ditampilkan oleh Garmin Basecamps ini merupakan open source, jadi sangat banyak pilihan peta yang bisa digunakan.
Pada gambar diatas saya menggunakan gabungan antara peta Navnet, Topografi dan DEM. Berikut langkah-langkah untuk menggabungkan beberapa peta agar menjadi peta 3D.

Selasa, 26 April 2016

Sidequest Puncak Tertinggi Bali

"Sensasi tersendiri saat menapaki gunung yang sunyi"

Menelusuri Jejak Kuno Sang Pandhita
Pucak Antap Sai, Gunung Bon 1852 mdpl
3 Januari 2016

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Pura Pucak Entap Sai Bon
Ahad yang cerah disaat Eko datang berkunjung dan mengajak mendaki gunung. Aku menyanggupi dengan syarat gunungnya dekat dan cepat. Maklum, sedang persiapan acara besar, jadi malas untuk pergi jauh-jauh, hehe...

Kami pilih untuk mengunjungi Gunung Bon, yang terletak di Desa Bon, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Kami yang terdiri dari saya, Eko dan mas Fariz berangkat dari Denpasar pukul 10.00 WITA.
Setelah perjalanan sekitar 1.5 jam yang lumayan melatih skill mengemudi, akhirnya kami tiba di simpangan jalan menuju jalan setapak.

Kami memutuskan untuk menitipkan kendaraan di sebuah rumah penduduk yang paling dekat dengan jalan masuk ke hutan. Kami disambut dengan ramah, sayang sekali aku lupa nama pemilik rumah tersebut.

11.30 WITA - Start Tracking
jalan menuju hutan
Diawal jalur kami disuguhi pemandangan tanaman-tanaman kebun dan rerumputan gajah yang biasa dijadikan pakan ternak. Semakin ke dalam pemandangan menjadi mirip dengan hutan di Pucak Mangu. Jalur relatif landai dan mudah untuk diikuti. Karena kelembaban hutan tinggi, disamping itu karena masih berada pada musim penghujan, terasa sangat gerah saat melewatinya.




Minggu, 24 April 2016

Lets Play Archery

Newbie in Archery

ketika mengikuti Borneo Open 2016

Archery atau panahan, sudah hampir 8 bulan lamanya saya mengikuti hobi baru ini. Sangat menarik, karena selain olah raga diperlukan juga olah rasa dan olah pikir. Selain itu, olahraga ini juga disunnahkan oleh Nabi Muhammad Shollallahu Álaihi Wa Sallam.
“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ahmad dan lainnya)

Mulai dari latihan awal yang sangat kaku saat memegang busur sampai akhirnya coach menyuruh untuk mengikuti lomba Borneo Open 2016 di Balikpapan, semua terasa begitu menyenangkan.


Kamis, 17 Maret 2016

Ciremai Punya Cerita (Bagian 2)

West Java's Highest Summit
Gunung Ciremai
3.078 mdpl
6-7 Juni 2015
(bagian 2)

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

puncak Gn. Ciremai

Chapter 3 - Ketika Gunung tidak bersahabat
19.00 WIB - menuju Pesanggrahan
Kami, tim enjoy masih berusaha mengejar tim turbo yang kemungkinan saat ini sudah kelaparan. Walaupun ada beberapa diantara mereka yang sudah berpengalaman dalam pendakian, tetapi kami masih was-was.
Saat langit mulai gelap, kabut mulai turun dan semakin pekat seiring bertambahnya ketinggian jalur yang kami capai.
Karena diantara kami sudah mulai ada yang terlihat kelelahan sehingga pergerakan menjadi lambat, akhirnya tim ini dibagi lagi menjadi dua. Saya ditempatkan di tim 1 bersama Bang bayu dan Teguh bertugas mengejar dan membawakan peralatan masak.
Bergegas kami bertiga menuju pos selanjutnya yaitu Pesanggrahan.

19.21 WIB - Pesanggrahan > Sanghyang Ropoh
setiba di pos ini, kami mencari-cari kemungkinan keberadaan tim turbo. Mungkin saja mereka memutuskan berhenti dan ngecamp disini, namun ternyata nihil. Malah kami bertemu bule yang memberi peringatan bahwa ada babi hutan disekitar pos Pesanggrahan.
"Ada babi...", kata sang bule dengan bahasa Indonesia yang sedikit terpotong-potong. Awalnya kami tidak ngeh artinya, apakah dia bermaksud bertanya atau memberitahu, setelah dia menunjuk ke arah pepohonan barulah kami mengerti.
Karena tidak ada tanda-tanda tim turbo, kami lanjut lagi ke pos berikutnya Sanghyang Ropoh dengan kondisi kabut yang semakin tebal.

Rabu, 30 September 2015

Ciremai Punya Cerita (Bagian 1)

"Back to basic - Manajemen Logistik"

West Java's Highest Summit
Gunung Ciremai
3.078 mdpl
6-7 Juni 2015
(bagian 1)

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Igir-igir Gn. Ciremai
Prolog
Surat penugasan dinas untuk menghadiri rapat di Pusdiklat PLN, Ragunan, Jakarta tanggal 4-5 Juni seperti golden tiket bagi rencanaku untuk mengikuti ajakan pendakian bersama Gn. Ciremai tanggal 6-7 Juni dari teman-teman PHC (PLN Hiking Community).
Segera saja aku mengajukan cuti hari Senin untuk spare waktu dan Alhamdulillah di-acc oleh atasan. Trims yo bos.
Packing perlengkapan dan peralatan yang dibawa, saya pun berpamitan kepada orangtua untuk dinas sekaligus mendaki. Walaupun dilepas dengan senyum kecut, akhirnya ortu memberi restu juga. Sempat dibuat tersenyum simpul saat Ibu berpesan agar berhati-hati karena Gn. Ciremai terkenal angker.

Chapter 1 - Para ABIDIN nekat berkumpul
16.00 WIB - Ragunan, Jakarta Timur
Setelah rapat usai, saya segera mengontak Eko untuk menuju ke kosannya yang berlokasi di daerah Cipete. Karena tidak hapal Jakarta, saya sempat berputar-putar dan naik turun metromini. Akhirnya saya memilih menggunakan taksi untuk menuju PLN Pusat agar bisa dijemput oleh Eko disana.
Perjalanan dari PLN Pusat menuju kosan Eko, kami sempat ditilang oleh Pak Pol karena saya tidak menggunakan helm (haha...., sudah gitu polisinya tidak memberikan solusi untuk meminjamkan helmnya agar sampai di tujuan).

18.00 WIB - Kos Eko, Jakarta
Sesampainya di kosan Eko, dilanjutkan dengan mandi, sholat, repacking dan membeli logistik yang diperlukan untuk segera menuju terminal Pulo Gadung sebagai tempat berkumpul. Kami harus berada disana pukul 22.00 WIB. Perjalanan dari blok M menuju Pulo Gadung terasa sangat lama karena macet. Di perjalanan kami bolak-balik dihubungi Bang Deni (pembuat ajakan pendakian ini). Untungnya saya tidak ditempatkan di Jakarta, mungkin bisa stress jika setiap hari melihat macet seperti ini.

22.00 WIB - Terminal Pulo Gadung, Jakarta
Saya dan Eko langsung menuju ke tempat Bang Deni dan kawan-kawan berkumpul. Ternyata, Bang Deni sudah mendapatkan bus untuk menuju Cirebon. Di dalam bus, saya berkenalan dengan kawan-kawan dari PHC. Adapun peserta pendakian yang berangkat dari Pulo Gadung adalah sebagai berikut :
1. Bang Deni
2. Pak Arief
3. Bang Abbas
4. Bang Bayu
5. Bang Dian
6. Bang Elvin
7. Bang Rifai
8. Bhaskara
9. Ario
10. Teguh
11. Subhan
12. Hendi
13. Adiknya Hendi (Aldi)
14. Zein
15. Fajar
16. Eko
17. Saya sendiri

Sementara 8 orang lain yaitu : Bang Fetri, Bang Yuzon, Mbak Nurul, Bang Hilman, Bang Deni Irawan, Mbak Putri, Bang Yoga, dan satu lagi saya lupa, akan berangkat dari Kramat Jati.

Sejenak bercakap-cakap dengan kawan-kawan baru ini, ternyata kebanyakan dari mereka juga ikut mendaki karena ada dinas ke Jakarta. "Maklumlah, kita kan para ABIDIN" kata Pak Arif, yang diambil dari akronim "Atas Biaya Dinas", hehe... ada-ada saja.
Melihat bus yang tidak beranjak alias ngetem, beberapa dari kami keluar untuk mencari makan. 30 menit kemudian barulah bus ini berangkat menuju Kuningan, Cirebon, Jawa Barat. Bus yang kami naiki adalah PO Luragung yang terkenal dengan "kelihaiannya" meliuk-liuk di Jalan Pantura. Karena sangat mengantuk, saya tidak memperhatikan apa yang terjadi, yang jelas saya sempat mendengar para penumpang berteriak-teriak ketakutan akibat ulah sopir yang sering hampir menyerempet kendaraan lain dari arah berlawanan. Adzan berkumandang, saya menunaikan sholat dalam posisi duduk di kursi bus.

05.00 WIB - Kuningan, Cirebon
Mentari hangat menyambut kami di pertigaan Linggajati-Kuningan. Terlihat jelas di depan kami, Gunung Ciremai yang diselimuti awan putih berbentuk jamur di puncaknya. Badai hebat mungkin sedang terjadi disana, gumamku kepada Eko.
Beberapa saat kemudian, kami dijemput oleh kawan-kawan Bang Deni menuju pos pendakian Palutungan.

Chapter 2 - Tim Turbo vs Tim Enjoy
06.00 WIB - Palutungan
Istirahat, repacking, MCK, dan registrasi di pos pendakian. Sebelumnya Bang Deni menjelaskan mengenai pendakian ini. Kita berencana akan melintasi 2 jalur yang berbeda, yaitu naik via jalur Palutungan dan turun via jalur Linggajati. Mengingat trek yang lumayan berat, jadi segala sesuatu harus benar-benar dipersiapkan dengan matang, terutama masalah logistik dan fisik. Masing-masing personil diwajibkan membawa 4 liter air.
Dengan Rp50.000/orang sebagai mahar biaya registrasi untuk pendakian Gn. Ciremai dengan ketentuan semua pendaki diharuskan membawa sampahnya kembali. Disamping itu kami juga mendapat jamuan dari warga sekitar dan bekal makan siang. Keren sekali sistemnya. 
Kami mulai pendakian dari pos Palutungan setelah briefing dan bertemu tim PHC lainnya.
info jalur pendakian Gn. Ciremai via Palutungan
briefing sebelum melakukan pendakian oleh petugas TNGC

Senin, 15 Juni 2015

Menuntaskan 10 Puncak Tertinggi Bali (Chapter Gn. Pohen)

"perlu waktu 2 tahun untuk diijinkan menapakkan kaki di puncaknya"

Menembus Rimba Tak Bertuan
Gunung Pohen 2084mdpl
31 Mei 2015

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

sunset di Gn. Pohen
Disclaimer :
Gunung Pohen merupakan area cagar alam yang dilindungi. Tidak ada jalur resmi yang bisa digunakan untuk mencapai puncaknya. Penulis tidak menyarankan mengikuti jejak kami bila tidak memiliki kemampuan dasar navigasi darat.

Ini kali ketiga aku menapakkan kaki di hutan tropis nan lebat ini. Kali pertama adalah setahun yang lalu aku bersama kawan-kawan (Husen, Bibo, Fitri, Wahyu, Lanang) mencoba mencapai puncaknya. Percobaan pertama belum berhasil dan terhenti di ketinggian 1780mdpl.
Pendakian kedua, setahun setelah percobaan pertama, di kala hujan lebat bulan April, aku dan Eko mencoba kembali mencapai puncaknya. Namun kali ini kami masih belum berhasil dan terhenti di 1800mdpl.
Gunung ini sangat tangguh, tidak bisa ditembus dengan cara standar. Pada tanggal 31 Mei 2015, kami (saya, Eko, Coco, Mas Eko Sangalam, dan Nova) berencana kembali mencapai puncaknya. Setelah sebelumnya membuat simulasi jalur pendakian, kami bulatkan tekad kali ini harus berhasil mencapai puncaknya.

Saya tidak mau berkomentar masalah PLTP Bedugul yang menjadi polemik di kaki gunung ini, karena hal tersebut diluar kemampuan saya untuk menerjemahkan situasi dan kondisi mulai dari eksplorasinya hingga terkatung-katungnya proyek sampai sekarang.